Kembang Api: CF17, Perjalanan, dan Kesepian
Kembang api itu, baik yang diterbangkan ke langit atau yang bisa dipegang, semuanya cantik. Waktu kecil aku sering dibelikan kembang api jenis sparkles, dinyalakan sehari 1 batang di malam-malam bulan Ramadan. Terkadang kalau ada teman ikut main, kami boleh menyalakan 2-3 kembang api. Malam takbiran dan malam tahun baru tentu jauh lebih meriah. Tetangga yang kaya akan membeli kembang api besar dan kami bisa ikut nonton dari rumah. Di televisi juga ditayangkan kembang api dari banyak negara. Semuanya cantik. Mereka menyala terang, warna-warni seperti bintang. Bersinar, lalu menghilang.
Setelah pesta usai, semua kembali gelap dan sunyi. Malam datang, tak lama kemudian matahari terbit, dan kami "hidup" kembali. Berjalan seperti biasa, "hidup" seperti biasa. Bangun sahur, ibadah, sekolah, bermain, memasak, tidur, belajar, bertemu teman atau saudara. Menjalani realitas. Kembang api akhirnya hanyalah sebuah kenangan. Hanya sebuah potongan ingatan. Nyala kembang api indah, tapi realitas adalah hari-hari setelah kembang api.
CF17 adalah momen "kembang api" pertama yang aku sadari di hidupku. Mungkin karena CF17 adalah trip jauh pertamaku. Sebelumnya aku pernah ke Bandung, sama teman-teman tapi saat itu semua sudah dipersiapkan. Bahkan tiket kereta dan konsum semua sudah ada yang handle aku beneran tinggal datang aja. Berbeda dengan trip kali ini, aku prepare semuanya sendiri dengan kesadaran penuh. Tiket kerta, hotel, transport, komunikasi, anggaran belanja, rundown, bekal, semua under control.
Aku pergi gak sendiri, waktu itu bareng yachi dan shin. Dari stasiun ke hotel kita masih bareng. Tapi aku masih harus jalan lagi ke penginapanku, kali ini bareng pus. Waktu itu sudah tengah malam. Literally jam 11 kita masih di jalan. Kita sempat nyasar juga dan itu serem banget. Jakarta (well, Tangerang sih) adalah kota asing yang jauh, tengah malam, gelap, dan nyasar. Aku memang pergi berdua sama pus tapi tetap saja kita ini 2 cewek yang sangat bisa kenapa-kenapa. Setelah 20-30 menit Alhamdulillah sampai penginapan.
Paginya kita berdua pergi ke CF. Kita gak jualan, karena memang kendala biaya dan circle. Aku juga niatnya waktu itu datang CF buat main aja. Sampai venue harus antre panjaaang banget, hampir dzuhur baru kita bisa masuk. Di dalam kita langsung gas jalan-jalan (pisah). Aku pergi ke booth buat ambil belanjaan (ikut PO) dan beli pesenannya adekku, sisanya lihat-lihat aja. Aku juga ketemuan sama teman-teman yang jualan. Mengobrol tipis-tipis, mereka sibuk sekali. Aku lalu antre cha time sama salma, mengobrol di antrean, sampai dia dicariin orang-orang booth karena perginya lama banget (antriannya parah banget emang tuhh). Salma balik ke booth, sementara aku duduk di depan panggung. Minum boba sambil melihat orang-orang. Mereka semua bergerombol, ada banyak cosplayer, ada couple, ada yang duduk melingkar. Aku gak tau apa yang aku pikirkan saat itu tapi rasanya... sepi.
Gak lama aku ketemu lagi sama pus tapi waktu itu dia udah mau pulang ke Jakarta. Karena aku gabut aku ikut keluar. Dia pulang, sementara aku lanjut duduk-duduk di luar. Aku gak ketemu siapa pun. Aku kembali diam dan minum es boba. Rasa sepi itu datang lagi. Karena sesak, akhirnya aku jalan ke mushola di Hall 1(?). Jauh banget! Sebenarnya ada mushola di lantai 2 tapi aku males wudhu bareng laki-laki. Tempatnya sangat gak kondusif. Sholat di bawah yang jauh banget itu, lalu lanjut jalan masuk lagi ke venue lewat hall 10. Aku gak ingat apa yang kulakukan di dalam kali itu, tapi setelah booth beres-beres aku ketemu salma lagi. Kita lalu ke aeon buat beli sushi. Senang main sama salma kita perginya naik bis. Jajan sushi, aku juga beli purin sama onigiri.
Selesai jajan sushi itu sudah jam 9 malam. Aku sampai ke hotel jam 9 lewat. Kali ini aku menginap sendirian. Pus udah pulang tadi sore dan aku gak ada barengan lagi. Masuk hotel rasanya sunyi dan sepi. Kalau di venue ramai suara tapi sepi (internally), yang di hotel kali ini sepi dan sepi. Aku.. takut.
"Aah, apakah teman-temanku yang merantau merasa seperti ini juga selama di kuliah?". Aku mengubur diriku dalam selimut, lalu tertidur.
Pagi harinya aku segera siap-siap untuk pulang. Beres-beres, mandi, langusng sarapan sushi dan puding sisa semalam. Keretaku masih jam 10 tapi jam 6 aku sudah keluar kamar. Entah kenapa aku sangat buru-buru, mungkin karena aku takut ketinggalan kereta atau aku ingin segera pulang dan mengakhiri rasa sepi ini. Di luar untungnya cerah sekali. Aku ketemu tetangga-tetangga yang memang tinggal di sini (penginapannya ada di tengah cluster) dan ada satpam-satpam yang sedang ganti shift juga. Pesan gojek, otw ke stasiun. Di kereta aku ketemu seatmate yang baik. Cewek, ngobrolnya asik. Cuman saat itu aku minum obat jadi sepanjang perjalanan aku lebih banyak tidur. Sampai di sini lagi jam setengah 8 malam. Aku dijemput adekku.
Sampai rumah hampir jam 9. Dan di rumah ini jam setengah 9 semua orang sudah mulai siap-siap tidur jadi rumah mulai sepi. Lampu tengah sudah dimatikan. Aku menaruh tas ranselku di dekat kursi. Di momen inilah aku dihantam sebuah kenyataan, "Aah. Realitas". Aku kembali ke realitas, aku kembali ke hidupku, aku kembali ke rutinitasku. Besok hari senin aku akan kembali bekerja. Aku akan kembali sarapan, kerja, pulang, belajar, tidur, begitu seterusnya. Segala percikan cahaya, letupan perasaan, dan roller coaster emosi selama perjalanan CF17 sudah berakhir. Kembang apiku sudah mati. Kembang api yang menyala terang, warna-warni seperti bintang, kini hilang. Detik aku menaruh ranselku, aku kembali ke realitas.
Momen kembang api yang indah, meletup-letup, dan sebentar ini tentu tidak cuma CF17. Segala macam perayaan: pengajian di rumah, rapat RT, lomba 17an, sidang skripsi, wisuda, resepsi pernikahan(?), bahkan hidup di dunia ini itself, menurutku adalah momen kembang api. Mereka semua contains emosi, warna-warni, dan sekejab saja. Sama seperti kembang api kan?
Lalu jika hidup di dunia adalah kembang api, maka akhirat adalah hari-hari setelah kembang api. Jika hidup di dunia sama seperti kenanganku di CF17 (senang, sedih, takut, sepi, lelah, fun), semua terjadi cuma dalam 2 malam saja. Dua malam itu sebentar dibandingkan 1 bulan. Dua malam itu sebentar dibandingkan 1 tahun. Dua malam itu sebentar dibandingkan 20 tahun. Akhirat adalah hari-hari setelah 2 malam itu. Hari-hari yang panjang, realitas yang panjang dan kekal.
Wallahu a'lam bishawab.



Comments
Post a Comment